Thursday, July 28, 2016

School-based Prevention Programs, Seperti apasih?

Corrieri, S., Heider, D., Conrad, I., Blume, A., König, H.H. and Riedel-Heller, S.G., 2014. School-based prevention programs for depression and anxiety in adolescence: a systematic review. Health promotion international, 29(3), pp.427-441.

Corrieri, S., Conrad, I. and Riedel-Heller, S.G., 2014. Do 'School Coaches' make a difference in school-based mental health promotion? Results from a large focus group studyPsychiatria Danubina, 26(4), pp.319-329.

Calear, A.L. and Christensen, H., 2010. Systematic review of school-based prevention and early intervention programs for depression. Journal of adolescence, 33(3), pp.429-438.


Masih menyoroti tentang prevalensi depresi dan dampak negatif nya pada remaja, prevensi gangguan depresi menjadi penting untuk diperbincangkan. School Based Prevention menjadi salah satu program yang dapat menjadi pilihan yang dapat diimplementasikan untuk mencapi tujuan dalam prevensi tadi. Mengapa sekolah menjadi pilihan? hal ini dikarenakan sekolah dianggap sebagai lingkungan yang ideal, dimana kontak langsung dengan klien (dalam topik ini adalah remaja) sangat memungkinkan, dan disekolah inilah majoritas klien dapat terjangkau. Selain itu pula, diharapkan dengan adanya program mengenai mental health disekolah, dapat melihat gangguan emosi yang sebelumnya tidak terdeteksi ataupun tidak terobati.

Terdapat tiga tipe program prevensi yang dapatt dilakukan di sekolah. (1) universal (diberikan kepada seluruh siswa tanpa melihat level symptomp dari masing masing siswa), (2) indicated (targetnya adalah individu dengan depresi ringan atau early symptomp depression) dan (3) selective (diberikan kepada siswa yang memiliki faktor resiko seperti parental depression atau perceraian).

Terdapat perbedaan pendapat mengenai kefektifan dan keberhasilan dari ketiga tipe program ini. Berdasarkan penelitian Calear, A.L. dan Christensen, H., mereka menyatakan bahwa indicated program dianggap lebih berhasil dan efektif dibandingkan universal dan selected program karena partisipan memiliki kesempatan/ ruang yang lebih luas untuk melakukan perubahan. menurut Corrieri, S, et,al, universal program dirasa memiliki manfaat yang lebih besar, disisi lain ada yang beranggapan bahwa indicated program lebih kearah kurasi bukan prevensi.

Salah satu program prevensi berbasis sekolah adalah 'School Couches' program prevensi di Jerman ini berawal dari kesadaran akan minimnya topik mengenai kesehatan mental didalam kurikulum reguler Jerman, dan dirasa menununjukkan kurangnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental. Maka dari itu NGO di Jerman (Irrsinnig Menschlich e.V) mengembangakan program prevensi berbasis kurikulum di sekolah. Untuk menstandarisasi intervensi yang akan diberikan, program ini menggunakan pendekatan secara sistemik dalam mengidentifikasi permasalahan/ isu dan menyediakan bantuan/ pertlongan yang dapat disesuaikan tergantung kebutuhan tiap sekolahnya. Kampanye dari program ini kemudian diberi nama dengan “Crazy? So what!”. Program ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kepekaan murid dan juga guru terhadap kesehatan mental.

Well, sebenarnya program mana yang dipilih dan efektif atau tidaknya program tersebut memang bergantung dari target dan tujuan dari program itu sendiri. Pada dasarnya menurut saya setiap program pasti sama-sama memberikan hasil, hanya saja hasil yang seperti apa yang diinginkan adalah pertanyaan besar yang harus mulai dipikirkan dari awal program tersebut dirancang. Sebagai Contoh. Jika ingin lebih meningkatkan kepekaan terhadap kesehatan mental dalam hal ini adalah depresi dan mencoba menghilangkan stigma, saya rasa program dengan pendekatan universal akan lebih baik dipilih, akan tetapi jika tujuannya sekaligus untuk menurunkan prevalensi, pendekatan selective dan indicated jauh lebih baik dipilih, karena targetnya lebih spesifik. Selain itu menurut saya keduanya sama-sama memiliki efek prevensi dan sama-sama memberikan manfaat yang berarti.



Rachmanita Yudelia Rizki Sjarif

No comments:

Post a Comment