Friday, July 22, 2016

Community-based Public Health Practice on Mental Health


Pada stase Ilmu Kesehatan Jiwa di RS UGM bulan Mei lalu, saya berkesempatan mengikuti sebuah acara Focus Group Discussion (FGD) selama dua hari di RSJ Grhasia. Acara tersebut dihadiri oleh para stakeholder kesehatan jiwa di Kabupaten Sleman meliputi petinggi-petinggi pemerintahan, wakil tenaga kesehatan (psikolog dari Puskesmas juga ada), dan wakil masyarakat (perwakilan lsm dan ibu-ibu PKK). 
Focus Group Discussion RSJ Grhasia

Pada hari pertama berisi paparan materi tentang penyakit kejiwaan beserta data-data angka kejadian penyakit jiwa oleh dokter spesialis kejiwaan. Hari kedua baru dilaksanakan FGD untuk merumuskan apa yang bisa dikerjakan oleh masing-masing wakil sesuai bidangnya yang dibagi dalam tiga kelompok: masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah.

Dari acara tersebut saya mendapat pelajaran. Kesehatan jiwa itu sangat butuh pendekatan komunitas. Pasien sakit jiwa yang sudah tahap rehabilitasi perlu untuk diberdayakan kembali di masyarakat setelah keluar dari RSJ. Siapa yang berperan dalam hal ini? Tentu saja tak bisa jika semua dilimpahkan tanggung jawabnya kepada rumah sakit. Yang bisa berperan disini adalah departemen sosial dan sejenisnya. 

Prinsip kesembuhan dari gangguan mental adalah bukan melulu tentang hilangnya 'gejala'. Namun yang terpenting adalah kembalinya fungsi kehidupan mendekati normal (quality of life). Dari situ banyak pihak yang harus dimintai peran dan diserahi tanggung jawab. Stigma pasien gangguan jiwa pun perlu untuk diluruskan. Kita harus giat dan peduli. 

Keluarga juga merupakan ujung tombak kesembuhan pasien gangguan jiwa. Pengobatan, tindakan darurat jika pasien ngamuk, dan gejala-gejala pasien mutlak dipahami seluruh anggota keluarga. Dokter harus mampu mengedukasi secara komprehensif. Mereka juga perlu untuk diajak untuk beraktifitas sehari-hari, karena seringkali efek obat psikotik membuat gejala negatif dimana mereka kehilangan inisiatif/minat dalam mengerjakan sesuatu. 

Masyarakat perlu untuk mampu melakukan deteksi dini kelainan kejiwaan, seperti depresi pada lansia, gangguan tingkah laku pada anak-anak dan gangguan emosi pada remaja/dewasa. Disinilah peran health prevention bisa bekerja.

Sungguh kompleks pelayanan kesehatan jiwa. Tidak bisa hanya bergantung pada satu bidang saja. Namun perlu sinergi banyak pihak dalam menangani pasien-pasien pengidap gangguan jiwa. 

Andinillahi Raswati 

No comments:

Post a Comment