Thursday, July 28, 2016

Support Group Penting bagi ODB


Dalam postingan kali ini, saya masih membahas tentang Bipolar Care Indonesia, yaitu sebuah organisasi yang aktif melakukan kegiatan untuk mewadahi orang dengan bipolar (ODB) dan orang yang berkecimpung disekitarnya. Untuk lebih spesifik, saya fokuskan cabang BCI tersebut yang ada di Jogjakarta.

Bipolar Care Indonesia simpul DIY, adalah sebuah perpanjangan tangan dari BCI dan fokus untuk klien yang berdomisili di sekitar DIY. Beberapa kegiatan yang mereka sudah kerjakan bisa kita lihat rekam jejaknya disini.


Salah satu program yang mereka gagas yaitu support group. Tujuan acara ini adalah memberi ruang untuk saling berbagi dan mendukung antara surviver dan caregiver. Dilakukan face to face dan bersifat semiformal. Bisa dilihat dari foto diatas kegiatan dilakukan outdoor, seperti di halaman gedung Graha Sabha Pramana UGM.

Saya pribadi sangat mendukung jenis kegiatan seperti ini. Mengapa? Efek kegiatan nya jelas kepada sasaran kita. Mereka orang dengan bipolar maupun yang sehari-hari membersamai ODB sangat perlu untuk dilakukan dukungan. Mereka perlu saling melihat apa sih yang sudah orang lain capai. Sama-sama memiliki gangguan bipolar bukan berarti mereka hanya perlu sibuk dengan pengobatan, tidak. Namun mereka harus diberi pencerahan pula bahwa kualitas hidup yang meningkat bisa menjadi indikator kesembuhan juga.

Banyak orang bipolar yang tidak paham akan hal diatas. Beberapa pasien yang saya lihat, malah berhenti bekerja dan memilih mengurung diri dirumah untuk fokus pada pengobatan. Apa yang mereka dapat? Justru mereka makin merasa "sakit". Diminta menceritakan apa aktifitas sejak bangun tidur pun, mereka tidak mampu. Tidak memliki harapan untuk sembuh dan bermanfaat. Mereka terkurung dengan self stigma, sudah sakit mental maka tidak bisa merasakan hidup normal lagi. Padahal hal tersebut salah besar. Sulit menangani orang dengan motivasi sembuh yang rendah semacam ini. Dan sayangnya orang seperti ini banyak di masyarakat.

Jika dipaparkan dengan komunitas, maka mereka saya yakin akan lebih tercerahkan. Mereka akan menilai diri dan pastinya termotivasi untuk menjadi lebih dari saat ini. Pengidap bipolar pun tetap bisa hidup bermanfaat, menulis buku, bekerja, berorganisasi, bersosialisasi, mengalahkan stigma negatif, membuat wadah bagi sesama agar bisa saling mendukung dan mengedukasi, karena kepedulian itu sangat lah penting terutama dari keluarga.

Ada cerita tentang seorang bipolar yang memiliki masalah berat karena dicerai oleh suami yang selingkuh. Sejak kecil keluarga sangat tidak mendukung hidupnya. Stresor yang dihadapinya sejak kecil dan saat bercerai ini bisa kita kategorikan berat karena menyangkut perpisahan dengan pasangan hidup dan keluarga sebagai primary support group (poin stresor sosialnya mungkin melebihi 100%).  Saat ke dokter jiwa setahunan lalu ia mengatakan sangat terpuruk dan ingin bunuh diri. Namun dengan pengobatan dan paparan komunitas, bertemu teman-teman senasib, akhirnya saat ini ia tetap survive membesarkan anaknya, menerima orderan kue-kue untuk membiayai anak-anak sebagai single parent, dan berhasil menjauhkan keinginan buruk seperti bunuh diri. Beliau ini bahkan diamanahi sebagai ketua komunitas tersebut kalo tidak salah.

Banyak contoh dari tokoh-tokoh lain yang survive dengan bipolar. Seperti ada yang sudah menulis sebuah buku dan diterbitkan dimana-mana tentang kisah hidupnya dengan bipolar, ada juga yang melakukan pameran lukisan dst. Mereka-mereka ini adalah contoh dari kepedulian orang disekitar mereka. Mau membantu mereka bangkit. Efek yang sangat luar biasa bukan? Satu kisah saja sudah membuat saya berlinang bahagia.

Oleh karena nya saya tidak banyak mencari contoh program public health lainnya karena yang dicontohkan komunitas ini, sudah lebih dari cukup untuk membantu mereka. Bagi saya needs dan klien mereka jelas. Efek dari program mereka juga sudah banyak contoh keberhasilannya. Yang penting saat ini adalah dukungan kontinu dan kepedulian terutama oleh kita tenaga kesehatan. Jika tidak dimulai dari kita, siapa lagi?


Andinillahi Raswati

Referensi:
https://m.facebook.com/BCIDIYJateng/?_rdr


No comments:

Post a Comment