Showing posts with label Rachmanita Yudelia Rizki Sjarif. Show all posts
Showing posts with label Rachmanita Yudelia Rizki Sjarif. Show all posts

Thursday, August 4, 2016

Kampanye depresi

Source: Erika's Lighthouse

Banyak hal yang bisa dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap depresi, salah satunya dengan pengenalan sejak dini mengenai depresi. Banyak cara untuk memperkenalkan depresi, salah satunya melalui media poster. Sebagai contoh adalah poster diatas. Poster ini diperuntukkan untuk remaja dan cocok untuk ditempatkan di sekolah sekolah. Poster ini adalah salah satu poster yang digunakan dalam program Deppresion Awareness Campaign milik Erika's Lighthouse, sebuah LSM yang didirikan pada tahun 2004 oleh Ginny dan Tom Neuckranz. Erika's Lighthouse memiliki standar untuk poster poster yang digunakan dalam programnya, dimana setiap poster untuk program kampanye depresi ini harus mengandung pesan-pesan sebagai berikut: (1) Deprresion is a real illness (2) depression is a common but serious health condition (3) Depression can take many form (4) If you know someone who is talking about suicide do NOT keeps a secret.


Source: http://www.erikaslighthouse.org/depression-awareness-campaign-for-teens

Thursday, July 28, 2016

Let's Get Happy

Get Happy adalah sebuah gerakan/komunitas yang memiliki fokus pada isu depresi, kesehatan mental, happiness dan stigma yang meliputinya di Indonesia. Co-Founder Caecilia Dee Tedjapawitra mengatakan dalam salah satu interview nya dengan Magdalene news bahwa sebelum mendirikan komunitas ini, dirinya mengalami gangguan depresi hingga hampir bunuh diri. Depresi berat mebuat dee mengisolasi diri dari lingkungannya. Berdasarkan pengalaman hidupnya tersebut, dee dan temanya Andre Adianto membangun komunitas yang diberi nama Get Happy. Alasannya sederhana, menurut mereka, tidak ada orang yang pantas mengalami depresi sendirian. Komunitas ini menyediakan wadah dalam bentuk aktivitas, pendekatan dan therapy yang dapat membatu mengatasi masalah kesehatan mental. Selain itu get happy juga memberikan informasi mengenai kesehatan mental melalui websitenya di http://get-happy.org/.
Menurut saya, satu hal penting yang sebenarnya disediakan oleh komunitas ini adalah sharing yang merupakan bentuk dukungan yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang dengan gangguan depresi. dengan sharing, mereka akan merasa masih memilliki tempat untuk berbagi dan didengarkan. Selain itu dengan sharing kita juga bisa membantu mereka mencari jalan untuk berdamai dengan masalahnya dan kembali sembuh. Banyak orang mengatakan kepada orang dengan gangguan depresi untuk "lebih dewasa" atau tidak usah memikirkan keadaan dirinya, akan tetapi mereka tidak tahu bagaimana rasanya hidup dengan depresi. Akan lebih baik tampaknya jika kita hanya diam dan mendengarkan cerita mereka. Seperti slogan dari komunitas ini, mungkin kamu depresi, tapi bukan berarti kamu sendiri.

School-based Prevention Programs, Seperti apasih?

Corrieri, S., Heider, D., Conrad, I., Blume, A., König, H.H. and Riedel-Heller, S.G., 2014. School-based prevention programs for depression and anxiety in adolescence: a systematic review. Health promotion international, 29(3), pp.427-441.

Corrieri, S., Conrad, I. and Riedel-Heller, S.G., 2014. Do 'School Coaches' make a difference in school-based mental health promotion? Results from a large focus group studyPsychiatria Danubina, 26(4), pp.319-329.

Calear, A.L. and Christensen, H., 2010. Systematic review of school-based prevention and early intervention programs for depression. Journal of adolescence, 33(3), pp.429-438.


Masih menyoroti tentang prevalensi depresi dan dampak negatif nya pada remaja, prevensi gangguan depresi menjadi penting untuk diperbincangkan. School Based Prevention menjadi salah satu program yang dapat menjadi pilihan yang dapat diimplementasikan untuk mencapi tujuan dalam prevensi tadi. Mengapa sekolah menjadi pilihan? hal ini dikarenakan sekolah dianggap sebagai lingkungan yang ideal, dimana kontak langsung dengan klien (dalam topik ini adalah remaja) sangat memungkinkan, dan disekolah inilah majoritas klien dapat terjangkau. Selain itu pula, diharapkan dengan adanya program mengenai mental health disekolah, dapat melihat gangguan emosi yang sebelumnya tidak terdeteksi ataupun tidak terobati.

Terdapat tiga tipe program prevensi yang dapatt dilakukan di sekolah. (1) universal (diberikan kepada seluruh siswa tanpa melihat level symptomp dari masing masing siswa), (2) indicated (targetnya adalah individu dengan depresi ringan atau early symptomp depression) dan (3) selective (diberikan kepada siswa yang memiliki faktor resiko seperti parental depression atau perceraian).

Terdapat perbedaan pendapat mengenai kefektifan dan keberhasilan dari ketiga tipe program ini. Berdasarkan penelitian Calear, A.L. dan Christensen, H., mereka menyatakan bahwa indicated program dianggap lebih berhasil dan efektif dibandingkan universal dan selected program karena partisipan memiliki kesempatan/ ruang yang lebih luas untuk melakukan perubahan. menurut Corrieri, S, et,al, universal program dirasa memiliki manfaat yang lebih besar, disisi lain ada yang beranggapan bahwa indicated program lebih kearah kurasi bukan prevensi.

Salah satu program prevensi berbasis sekolah adalah 'School Couches' program prevensi di Jerman ini berawal dari kesadaran akan minimnya topik mengenai kesehatan mental didalam kurikulum reguler Jerman, dan dirasa menununjukkan kurangnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental. Maka dari itu NGO di Jerman (Irrsinnig Menschlich e.V) mengembangakan program prevensi berbasis kurikulum di sekolah. Untuk menstandarisasi intervensi yang akan diberikan, program ini menggunakan pendekatan secara sistemik dalam mengidentifikasi permasalahan/ isu dan menyediakan bantuan/ pertlongan yang dapat disesuaikan tergantung kebutuhan tiap sekolahnya. Kampanye dari program ini kemudian diberi nama dengan “Crazy? So what!”. Program ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kepekaan murid dan juga guru terhadap kesehatan mental.

Well, sebenarnya program mana yang dipilih dan efektif atau tidaknya program tersebut memang bergantung dari target dan tujuan dari program itu sendiri. Pada dasarnya menurut saya setiap program pasti sama-sama memberikan hasil, hanya saja hasil yang seperti apa yang diinginkan adalah pertanyaan besar yang harus mulai dipikirkan dari awal program tersebut dirancang. Sebagai Contoh. Jika ingin lebih meningkatkan kepekaan terhadap kesehatan mental dalam hal ini adalah depresi dan mencoba menghilangkan stigma, saya rasa program dengan pendekatan universal akan lebih baik dipilih, akan tetapi jika tujuannya sekaligus untuk menurunkan prevalensi, pendekatan selective dan indicated jauh lebih baik dipilih, karena targetnya lebih spesifik. Selain itu menurut saya keduanya sama-sama memiliki efek prevensi dan sama-sama memberikan manfaat yang berarti.



Rachmanita Yudelia Rizki Sjarif

Monday, July 25, 2016

DEPRESI bisa disembuhkan

(Source: hopkins medicine)

Depresi adalah salah satu penyakit yang sadar atau tidak sering terjadi dan dihadapi terutama oleh remaja. Akan tetapi, banyak remaja yangbahkan tidak mampu mengenali depresi itu sendiri. Tidak banyak yang menyadari bahwa gangguan depresi ini cukup mengkhawatirkan karena dapat menurunkan kualitas hidup seseorang bahkan hingga menghilangkan nyawa/ bunuh diri. Salah satu program dari John Hopskin Hospital, ADAP (Adolescent Depression Awareness Program), yang dikembangkan bersama dengan LSM seperti The Youth Philanthropy Initiative (YPI), Tulsa ,David Raymond Price Foundation dan  The Ryan Licht Sang Bipolar Foundation memiliki tujuan untuk mengedukasi tidak hanya murid tetapi juga guru dan orang tua mengenai gangguan depresi dan bipolar. Program ini berbentuk sebuah kurikulum yang bisa diajarkan didalam kelas kepada siswa  siswi (usia remaja) disekolah, training untuk para pengajar dan tenaga kesehatan, serta juga presentasi pada orang tua dan masyarakar/ komunitas. Melalui diskusi interaktif, video dan kerja kelompok program Program ini mengajarkan remaja untuk lebih terbuka terhadap orang tua/ orang yang lebih tua tentang maasalah yang dihadapinya dan memberikan pesan bahwa DEPRESI BISA DIOBATI.

Program ini menunjukkan bahwa mengobati gangguan depresi (pada kasus ini, remaja) memerlukan dukungan dari berbagai aspek seperti keluarga sekolah dan lingkungan sekitar/ komunitas. brbagai penelitian menunjukkan program intervensi seperti ini sangat mebantu terutama dalam prevensi depresi (The Prevention of Adolescent Depression). Program ini meng cover hampir ketiga domain public health yaitu health improvement, health prtection dan health service yang melibatkan berbagai aspek. Mungkin sudah saatnya Indonesia mulai memperhatikan gangguan depresi ini, menurut saya program dengan schoool-based dimana sasaran utamanya adalah siswa siswi usia remaja yang sangat rentan mengalami depresi, adalah salah satu program yang  cukup baik untuk diadaptasi di Indonesi. Dengan program ini, orang tua, tenaga kesehatan, sekolah bahkan msyarakat dapat berperan aktif dan turut serta dalam mencegah dan mengatasi depresi.

Friday, July 22, 2016

Three Domains of Public Health

Griffiths, S., Jewell, T. and Donnelly, P., 2005. Public health in practice: The three domains of public health. Public health, 119(10), pp.907-913

Dalam journal ini Griffiths menjelaskan tentang 3 domain dalam public health, yaitu health protection, health improvement and health service delivery and quality. Akan tetapi menurut saya banyak hal yang bisa mepengaruhi terlaksananya 3 domain ini secari baik, contohnya di Indonesia, socio-ekonomi, budaya, dan juga agama terkadang sering bertentangan dengan upaya kita dalam melaksanakan dan menjalannkan program public health Agaknya ini sering menjadi dilema tersendiri.

Public health tidak punya tempat di pendidikan sarjana kedokteran (Woodward) tampaknya tidak sepenuhnya salah..

"Mengapa saya tidak tertarik dengan public health?" sepertinya untuk saya pertanyaan itu akan berubah menjadi "Apakah saya tidak tertarik dengan public health?" kenapa seperti itu? Saya memang salah satu maahasiswa lulusan Fakultas Kedokteran, tapi jujur, rasanya saya tidak banyak tahu tentang public health itu seperti apa. Apakah benar yang ada dalam pemikiran saya kalau public health itu hanya sebatas membahas tentang penyakit yang sedang "Hits" atau butuh perhatian di masyarakat? atau mungkin lebih dari itu? Lalu apa hubungnnya kesehatan masyarakat dengan profesi dokter? Jika ada pertanyaan apakah saya akan menjauh atau mendekat, mungkin jawaban saya tidak keduanya, karena saya sendiri tidak terlalu mengetahui apa itu public health. Seperti peribahasa bilang "Tak kenal maka tak sayang".
Jika dibilang mahasiswa kedokteran meninggalkan public health, menurut saya, jangankan meninggalkan, tahu cukup dalam saja tidak. Entah saya saja yang tidak memperhatikan kuliah saya selama ini atau bagaimana, tapi rasanya public health tidak banyak diterangkan selama saya kuliah. Memang banyak yang menyebutkan dan menekankan tentang pentingnya promosi dan prevensi, tapi menurut saya hanya sebatas itu saja. Sepertinya lebih banyak diajarkan tentang bagaimana cara mengobati. Jadi, menurut saya, jika Woodward, A mengatakan bahwa public health tidak punya tempat di pendidikan sarjana kedokteran, tampaknya hal itu tidak sepenuhnya salah.

Rachmanita Yudelia Rizki Sjarif

SOS (Sign Of Suicide)



Nama salah satu program dari SAMHSA (Substance Abuse and ental Health Service Administration) bagian dari U.S Department of Health and Human Sevices ini cukup unik. Sesuai dengan singkatan dari nama rogram ini, program ini memang bertujuan untuk memberikan pertolongan sekaligus melakukan prevensi terhadap depresi yang jika dibiarkan bisa mengarah ke bunuh diri/ suicide. Sasaran mereka tepat sekali yaitu remaja (middle-high school) berumur 11-17 tahun, karena depresi memang paling sering terjadi di usia remaja. Program ini mengajarkan mereka untuk memiliki insting dan melakukan aksi segera dalam mengenali dan mengatasi depresi, seperti saat melakukan CPR saat emergency.

Di Indonesia sendiri, menurut saya belum banyak program yang menyoroti tentang depresi/ kesehatan mental di masyarakatnya. Program seperti ini sangat bagus sekali untuk di adopsi atau diterapkan di masyarakat, mengingat depresi sendiri sebenarnya menempati posisi ke-2 dalam penyakit yang dapat menyebabkan disabilitas di dunia. beberapa penelitian (contoh: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1448274/) menunjukkan kalau program ini cukup efektif menurunkan angka percobaan bunuh diri di negara lain seperti di amerika. jadi, keren banget kan kalau anak SMP-SMA yang sering dibilang "masih labil", bisa mengenali dan mengatasi depresi di dirinya sendiri atau dilingkungan sekitarnya. 

Rachmanita Yudelia Rizki Sjarif