Showing posts with label Andinillahi Raswati. Show all posts
Showing posts with label Andinillahi Raswati. Show all posts

Friday, July 29, 2016

Poster Gangguan Bipolar

Penderita bipolar seringkali mendapat stigma yang buruk dimasyarakat. Mereka beranggapan orang dengan gangguan mental adalah orang "gila". Menyamaratakan dengan gangguan skizofrenia, apalagi jika ODB ini sering ke psikiater. Masyarakat kita memang belum bisa bebas dari stigma.

Mengapa stigma negatif bisa muncul? Paling mungkin adalah karena ketidaktahuan, kurang nya informasi terkait gangguan bipolar sehingga stigma itu tetap ada. Padahal ODB sangat bisa menjalani aktifitas layaknya orang normal biasa. Sama seperti orang yang pilek, yang sakit hidungnya dan jika bisa dikendalikan pileknya tidak mengganggu aktifitas maka ia tetap bisa beraktifitas.

Oleh karenanya, penting sekali sosialisasi dan edukasi semacam poster dimasyarakat. Mengapa poster/infografik? Tidak banyak biaya yang dihasilkan, bisa mencapai semua kalangan sasaran apalagi jika di posting di media sosial, dan lagi poster bisa menjelaskan lewat gambar sehingga lebih mudah dipahami dan diingat.



(Sumber: pinterest)


(Sumber: Bipolar disorder)


Pada contoh poster diatas, terpampang berbagai informasi singkat tentang Bipolar. Lokasi-lokasi poster tersebut bisa diletakkan dimana saja. Misalnya di praktek dokter umum, Puskesmas, rumah sakit, dinas kesehatan, sekolah-sekolah terutama SMP hingga universitas. Bisa pula ditambahkan kontak yang bisa dihubungi terkait penanganan lebih lanjut jika ada yang ingin berkonsultasi.

Saya rasa sosialisasi lewat poster dengan bahasa yang sederhana adalah contoh termudah untuk mengedukasi masyarakat tentang suatu isu kesehatan termasuk tentang gangguan bipolar.

Andinillahi Raswati



Thursday, July 28, 2016

Support Group Penting bagi ODB


Dalam postingan kali ini, saya masih membahas tentang Bipolar Care Indonesia, yaitu sebuah organisasi yang aktif melakukan kegiatan untuk mewadahi orang dengan bipolar (ODB) dan orang yang berkecimpung disekitarnya. Untuk lebih spesifik, saya fokuskan cabang BCI tersebut yang ada di Jogjakarta.

Bipolar Care Indonesia simpul DIY, adalah sebuah perpanjangan tangan dari BCI dan fokus untuk klien yang berdomisili di sekitar DIY. Beberapa kegiatan yang mereka sudah kerjakan bisa kita lihat rekam jejaknya disini.


Salah satu program yang mereka gagas yaitu support group. Tujuan acara ini adalah memberi ruang untuk saling berbagi dan mendukung antara surviver dan caregiver. Dilakukan face to face dan bersifat semiformal. Bisa dilihat dari foto diatas kegiatan dilakukan outdoor, seperti di halaman gedung Graha Sabha Pramana UGM.

Saya pribadi sangat mendukung jenis kegiatan seperti ini. Mengapa? Efek kegiatan nya jelas kepada sasaran kita. Mereka orang dengan bipolar maupun yang sehari-hari membersamai ODB sangat perlu untuk dilakukan dukungan. Mereka perlu saling melihat apa sih yang sudah orang lain capai. Sama-sama memiliki gangguan bipolar bukan berarti mereka hanya perlu sibuk dengan pengobatan, tidak. Namun mereka harus diberi pencerahan pula bahwa kualitas hidup yang meningkat bisa menjadi indikator kesembuhan juga.

Banyak orang bipolar yang tidak paham akan hal diatas. Beberapa pasien yang saya lihat, malah berhenti bekerja dan memilih mengurung diri dirumah untuk fokus pada pengobatan. Apa yang mereka dapat? Justru mereka makin merasa "sakit". Diminta menceritakan apa aktifitas sejak bangun tidur pun, mereka tidak mampu. Tidak memliki harapan untuk sembuh dan bermanfaat. Mereka terkurung dengan self stigma, sudah sakit mental maka tidak bisa merasakan hidup normal lagi. Padahal hal tersebut salah besar. Sulit menangani orang dengan motivasi sembuh yang rendah semacam ini. Dan sayangnya orang seperti ini banyak di masyarakat.

Jika dipaparkan dengan komunitas, maka mereka saya yakin akan lebih tercerahkan. Mereka akan menilai diri dan pastinya termotivasi untuk menjadi lebih dari saat ini. Pengidap bipolar pun tetap bisa hidup bermanfaat, menulis buku, bekerja, berorganisasi, bersosialisasi, mengalahkan stigma negatif, membuat wadah bagi sesama agar bisa saling mendukung dan mengedukasi, karena kepedulian itu sangat lah penting terutama dari keluarga.

Ada cerita tentang seorang bipolar yang memiliki masalah berat karena dicerai oleh suami yang selingkuh. Sejak kecil keluarga sangat tidak mendukung hidupnya. Stresor yang dihadapinya sejak kecil dan saat bercerai ini bisa kita kategorikan berat karena menyangkut perpisahan dengan pasangan hidup dan keluarga sebagai primary support group (poin stresor sosialnya mungkin melebihi 100%).  Saat ke dokter jiwa setahunan lalu ia mengatakan sangat terpuruk dan ingin bunuh diri. Namun dengan pengobatan dan paparan komunitas, bertemu teman-teman senasib, akhirnya saat ini ia tetap survive membesarkan anaknya, menerima orderan kue-kue untuk membiayai anak-anak sebagai single parent, dan berhasil menjauhkan keinginan buruk seperti bunuh diri. Beliau ini bahkan diamanahi sebagai ketua komunitas tersebut kalo tidak salah.

Banyak contoh dari tokoh-tokoh lain yang survive dengan bipolar. Seperti ada yang sudah menulis sebuah buku dan diterbitkan dimana-mana tentang kisah hidupnya dengan bipolar, ada juga yang melakukan pameran lukisan dst. Mereka-mereka ini adalah contoh dari kepedulian orang disekitar mereka. Mau membantu mereka bangkit. Efek yang sangat luar biasa bukan? Satu kisah saja sudah membuat saya berlinang bahagia.

Oleh karena nya saya tidak banyak mencari contoh program public health lainnya karena yang dicontohkan komunitas ini, sudah lebih dari cukup untuk membantu mereka. Bagi saya needs dan klien mereka jelas. Efek dari program mereka juga sudah banyak contoh keberhasilannya. Yang penting saat ini adalah dukungan kontinu dan kepedulian terutama oleh kita tenaga kesehatan. Jika tidak dimulai dari kita, siapa lagi?


Andinillahi Raswati

Referensi:
https://m.facebook.com/BCIDIYJateng/?_rdr


Wednesday, July 27, 2016

Mengenal komunitas Bipolar Care Indonesia (BCI)


Sejak awal saya tertarik bipolar sebagai topik public health ini, saya sudah "menemukan" komunitas Bipolar Care Indonesia (BCI) secara tak sengaja di Facebook. Dulu saat saya memasuki stase Jiwa bersama dr. Tika Prasetiawati, Sp.KJ di RS UGM pun kami koas-koas beliau sudah di beri informasi untuk ikut komunitas-komunitas semacam ini jika tertarik. Saya lihat di halaman FB pun, beliau menjadi narasumber dalam kegiatan komunitas BCI ini. Suatu usaha yang luar biasa untuk sosialisasi kesehatan mental, menurut saya.

Bipolar Care Indonesia itu sendiri adalah organisasi sosial non profit yang mewadahi penderita bipolar, caregivernya, dan masyarakat umum yang peduli dengan bipolar. Organisasi ini diinisiasi oleh 5 orang yang sangat peduli penderita bipolar, yaitu dr. Pandu Setiawan, Sp.KJ, dr.Laurent Panggabean, Sp.KJ, dr.Hervita Diatri, Sp.KJ (K), Lely Wahyuniar, dan Sarah Santi.

Berbagai kegiatan yang dikerjakan seperti komunikasi eksternal dan internal, program menulis, melukis, sharing group, support family group, home visit, kampanye carfree day, team building, capacity building, advokasi, psikoedukasi, fundraising, art therapy, medical caring, seminar/talk show, kumpul bareng, dan lain,-lain.

Beberapa dokumentasi program tersebut ada di Instagram mereka @bipolarcare.ind. Disana pun ada talkshow yang mengundang penderita bipolar dari kalangan artis, yaitu Marshanda, untuk saling berbagi inspirasi dan motivasi.

Bagi ODB, sama seperti penderita gangguan mental lainnya, mereka sangat membutuhkan dukungan, untuk paham penyakit mereka, paham penanggulangannya, motivasi untuk semangat hidup, dan membuat hidup mereka menjadi berarti bagi orang lain. Intinya adalah peningkatan kualitas hidup yang diupayakan organisasi ini.

Semua terangkum dalam motto mereka: "Raise Mental Health Awareness, Care for Each Other, Together for Better Life".


Andinillahi Raswati

Referensi:
-Bipolar Care Indonesia simpul DI. Yogyakarta
-Bipolar Care Indonesia
-Instagram Bipolar Care Indonesia

Tuesday, July 26, 2016

Screening for Bipolar Disorder, a Public Health Issue


Gangguan bipolar memiliki beban penyakit yang sangat besar terhadap masyarakat. Dari mulai menurunkan kualitas hidup, salah satu penyebab disabilitas terbesar, bahkan bunuh diri terbanyak. Program skrining untuk gangguan bipolar ini menjadi sangat penting untuk mendeteksi dini sehingga bisa dilakukan pengobatan yang efektif sebelum terlambat. Yang menjadi pertanyaan, metode skrining apa yang bisa digunakan? 

Dalam review artikel ini dijelaskan contoh metode skrining berupa kuesioner, salah duanya yaitu Mood Disorder Questionnare (MDQ) dan Hypomania Check List -32 (HCL-32). MDQ lebih mudah digunakan dan sering dipakai untuk penelitian komunitas bipolar. Sementara HCL-32 lebih kompleks, lebih sulit digunakan namun lebih akurat dalam menidentifikasi gangguan bipolar tipe 2. Ada juga WHO Composite International Diagnostic Interview (CIDI) dan   

Terdapat sedikit masalah pada kuesioner MDQ: lebih banyak orang yang false positive (penyalahgunaan obat, post traumaic stress disorder, gangguan makan, attention deficit disorder, dst) dibanding yang sesungguhnya menderita bipolar itu sendiri. Tak bisa kita pungkiri, makin rumit suatu alat/tools, makin sulit digunakan orang awam walau hasilnya lebih akurat. Begitupun sebaliknya. 

Kebanyakan gangguan bipolar masih underdiagnosed. Lebih banyak pasien bipolar didiagnosis sebagai MDD alias Major Depressive Disorder, walau MDD pun bisa berubah menjadi bipolar. Namun kita harus sadari, diagnosis bipolar tidak bisa tegak lewat kuesioner semata. Harus melalui verifikasi klinisi/dokter jiwa. Tidak bisa juga kita katakan suatu metode skrining itu salah. Baik itu tindakan skrining dan diagnosis oleh dokter kejiwaan, sama-sama menjadi penting untuk dilakukan.


Andinillahi Raswati

Referensi:

Carta, M.G., 2015. Screening for bipolar disorders is a Public Health issue. The European Journal of Public Health. 25 (suppl 3): ckv169-055.

Monday, July 25, 2016

Mengapa kita harus peduli pengidap Bipolar?


Angka bunuh diri yang diakibatkan gangguan bipolar 20 kali lebih tinggi dibanding angka bunuh diri dalam populasi umum tanpa gangguan bipolar, yaitu 21,7% dibanding 1%. Angkanya sama pada laki-laki maupun perempuan," kata dr Ayi Agung Kusumawardhani, SpKJ(K), kepala Departemen Psikiatri RSCM dalam acara Seminar Media "Gangguan Bipolar: Dapatkah Disembuhkan?" yang diselenggarakan oleh Abott di hotel JW Marriot Jakarta, Rabu (25/4/2012).

Terkejut? Ya, saya pun demikian. Cuplikan yang saya sadur dari  detikHealth pada 2012 ini memaparkan perbandingan angka bunuh diri yang 'mengerikan', 20x dibanding populasi umum! Bahkan, orang dengan angka bunuh diri pasien gangguan bipolar 2-3x lebih banyak dari pasien skizofrenia sekalipun.

Beban penyakit ini sangat besar. Saya rasa penting sekali bagi kita terutama tenaga kesehatan untuk belajar lebih bagaimana bipolar, apa saja spektrum penyakit tersebut dan tentu skrining dini bagi masyarakat.

Dalam ulasan dari harian yang sama disini  saya mendaoatkan beberapa cara sederhana untuk deteksi dini gangguan bipolar yang dirangkum oleh d. Ayu Agung Kusumawardani, SpKJ (K), kepala departemen psikiatri RSCM.
 
1. Mengalami depresi berat
2. Gagal dalam perkawinan 
3. Gagal merespon pengobatan anti depresan 
4. Menjalani profesi yang berbeda-beda 
5. Saudara kandung memiliki gangguan mood 
6. Menyalahgunakan zat 
7. Sulit mengontrol dorongan
8. Menjalin banyak hubungan percintaan 
9. Memiliki beberapa jenis pekerjaan 
10. Didiagnosis megalami gangguan histrionik, psikotik dan borderline 
11. Suka warna merah 

 Namun bagi saya ciri-ciri diatas kurang komprehensif. Sifatnya hanya membantu untuk mengenali gejala awal kelainan jiwa jika ada beberapa poin positif (berapa banyak minimal nya tidak dijelaskan). Sosialisasi bagaimana cara skrining yang baik dan benar mutlak diperlukan masyarakat agar tak ada kasus seperti postingan saya sebelumnya (kisah nyata remaja penderita bipolar yang memilih bunuh diri).

Referensi artikel:
m.detik.com/health/read/2012/04/25/180431/1901524/763/cara-sederhana-mendeteksi-gangguan-bipolar
m.detik.com/health/read/2012/04/25/164422/1901435/763/

Andinillahi Raswati

Sunday, July 24, 2016

Gangguan Bipolar, Mungkinkah Diderita Orang Terdekat Anda?


Suatu hari di beranda Facebook saya muncul postingan tentang seorang remaja bernama Aga yang ditulis dokter Annisa Karnadi (FK UGM 2008) di link ini. Tulisan tersebut menarik karena berisi kisah remaja bernama Aga yang cerdas dan bahagia namun memilih mengakhiri hidupnya sendiri alias bunuh diri. Saya pun menjadi terhenyak dan bertanya-tanya, mengapa hal itu bisa terjadi?

Dalam postingan tersebut terdapat jawaban tentang Aga yang ternyata menderita gangguan bipolar yang tidak terdeteksi sejak awal oleh keluarga. Aga yang cerdas ternyata sudah sadar dan menyembunyikan kelainan nya tersebut sejak lama hingga "berakibat fatal" karena tak ada penanganan. Jawaban tersebut juga menyantumkan alamat blog ibu Aga yang menceritakan Aga di masa hidupnya. Blog bisa di lihat disini.

Selain itu juga ada kisah lain yang sangat mirip Aga di postingan dokter tersebut.
Saya salin kisah tersebut disini:

"..gangguan cairan otak..."
Update terbaru dari http://memoryofaga[dot]tumblr[dot]com/
Saya percaya blog ini lebih jujur daripada kabar kabur di media karena dulu jaman SMU saya pernah baca kisah yang mirip dengan kisah Aga. Tentang sosok anak yang bahagia, cerdas, pintar, ceria dan penuh kehangatan namun dia memilih mati bunuh diri.

----------------------------------------------------------------------------------

Ini mirip dengan yang saya baca di Chicken Soup For The Unsinkable Soul halaman 214 - 230) cetakan tahun 2001 

Judul kisahnya "Wind Beneath My Wings" menceritakan kisah Karyl Chastain Beal yang kehilangan putri semata wayangnya, Arlyn. 

Arlyn adalah gadis cantik, periang, bahagia, pintar dan populer. Keluarga mereka harmonis dan bahagia. Namun pada 7 Agustus 1996, selepas kelulusan SMU menjelang dua minggu masuk universitas, Arlyn pamit secara khusus kepada Karyl untuk pergi menengok Luke. Menurut Karyl ini bukan hal yang wajar, karena Arlyn jarang pamit secara khusus untuk hal-hal yang biasa.

Sore harinya Karyl didatangi oleh polisi yang memberikan kabar duka. Arlyn ditemukan mati bunuh diri menembak dirinya sendiri memakai senapan yang telah dia persiapkan dari bagasi mobilnya. Jadi saat itu rupanya Arlyn pamit kepada ibunya untuk pergi selama-lamanya...

Karyl menganggap Arlyn tidak mungkin mati bunuh diri. Arlyn digambarkan sebagai seorang putri yang menemukan kebahagiaan dalam hidup. Sosok yang tertawa, belajar dan memiliki banyak orang yang mencintainya. Arlyn selaras dengan alam dan kedamaian di sekitarnya. Bagaimana mungkin dia merenggut nyawanya sendiri? Sementara dia begitu sempurna dengan hidupnya yang indah. Bahkan dia akan segera menjadi mahasiswa di kampus impiannya. 

Karyl membongkar-bongkar kamar Arlyn dan menemukan tulisan-tulisan putrinya di dalam diary. Ternyata Arlyn bahkan sudah ingin bunuh diri sejak kelas 5 SD! Berulang-ulang dia menuliskan hal yang sama tentang keheranannya pada dirinya sendiri,
"Aku terus bertanya kepada diri sendiri mengapa. Selama hidupku, yang aku inginkan hanya mati, bukan hidup. Mengapa?" tulis Arlyn.

Karyl serta suaminya kaget. Mereka sadar bahwa tulisan ini adalah milik Arlyn, tapi isinya mustahil miliknya karena sosok Arlyn selama ini begitu lengkap dan sempurna. Mereka kemudian membawa tulisan-tulisan ini untuk dilakukan autopsi psikologis. 

Setelah beberapa pekan sang psikiater menyampaikan hasil autopsinya. Psikiater mengatakan bahwa Arlyn menderita manik depresif (disebut juga gangguan bipolar). Terjadi ketidakseimbangan bahan kimia di otaknya yang mengubah persepsinya terhadap realitas. Ketidakseimbangan kimiawi ini juga memunculkan keinginan-keinginan untuk bunuh diri dalam pikirannya. Gadis ini menyadari bahwa terjadi hal yang "tidak beres". Namun, otak Arlyn yang cerdas memungkinkan dia menyembunyikan bagian yang tidak normal dalam dirinya ini dari orang lain.

----------------------------------------------------------------------------------

Subhaanallah yaa...
Nikmatnya menjadi orang tua. Begitu banyak tugas kita dalam menjaga titipan-Nya. Pantas saja doa anak sholeh bisa menjadi tabungan pahala yang bahkan bisa menyelamatkan orang tuanya dari siksa api neraka.

Di akhir kisah, Karyl menyampaikan pesan pada setiap orang tua untuk memberikan waktu sedikit lebih banyak mendengarkan anak kita dengan cermat, untuk memberikan pelukan hangat, untuk mengucapkan kata-kata sayang pada anak. Sesuatu yang sederhana. Sesuatu yang kita berikan sekarang mungkin dapat mencegah penyesalan seumur hidup.
Terima kasih kepada Mammy dan keluarga Aga yang telah membuat blog yang indah sebagai pengenang kepergian Aga. Kepergiannya ternyata memang membawa banyak hikmat, terutama bagi saya sebagai seorang ibu. Semoga Allah Memberikan ketabahan, kekuatan dan ganti yang lebih baik. Semoga Allah Menyembuhkan segala luka...
Aamiin

“Kekuatan seorang ibu pada suatu waktu mungkin ada batasnya, namun kekuatan Allah Yang Maha Besar tentu Tak Terbatas”


Dari contoh-contoh ini saya menjadi sangat tertarik dengan dunia bipolar dan menjadikannya sebagai desain aktifitas public health saya. Terutama pada domain "health protection" yang bisa berupa skrining/deteksi dini pada anak, remaja dan dewasa yang berpotensi menderita gangguan mental terutama bipolar.

Referensi:
https://m.facebook.com/annisa.karnadi/posts/10204940731255655
https://memoryofaga.tumblr.com

Andinillahi Raswati

Friday, July 22, 2016

Mengapa saya tidak tertarik dengan Public Health?


Sejujurnya saya tidak begitu mengerti proses spesifik pada public health. Beberapa domain yang sebelumnya saya baca agaknya erat bersinggungan dengan praktek dokter misalnya saat di puskesmas. Jadi saya merasa, untuk spesifik public health nya saya kurang tertarik. Namun jika dikaitkan ke contoh nyata praktek dokter di Puskesmas saya rasa hal tersebut lumayan menarik. 

Pengumpulan data penyakit, skrining masyarakat, kelas-kelas edukasi, pemberdayaan ibu-ibu PKK, konseling, dsb.. saya rasa merupakan bagian dari public health. 

Public health adalah bagian dari praktek kedokteran kita. Jadi sudah sewajarnya kita mulai sedikit-sedikit mencari tahu event atau modal apa yang bisa kita lakukan untuk kesehatan masyarakat terutama promosi dan prevensi. 

Saya berasumsi, kurang tertarik nya kita adalah karena kurang kepedulian. Selama sekolah kedokteran kita bersinggungan dengan orang-orang di kampus dan tempat tinggal kita saja. Maka marilah kita semakin peduli, menengok kanan kiri dan membantu sebisa kita. 

Andinillahi Raswati 

Community-based Public Health Practice on Mental Health


Pada stase Ilmu Kesehatan Jiwa di RS UGM bulan Mei lalu, saya berkesempatan mengikuti sebuah acara Focus Group Discussion (FGD) selama dua hari di RSJ Grhasia. Acara tersebut dihadiri oleh para stakeholder kesehatan jiwa di Kabupaten Sleman meliputi petinggi-petinggi pemerintahan, wakil tenaga kesehatan (psikolog dari Puskesmas juga ada), dan wakil masyarakat (perwakilan lsm dan ibu-ibu PKK). 
Focus Group Discussion RSJ Grhasia

Pada hari pertama berisi paparan materi tentang penyakit kejiwaan beserta data-data angka kejadian penyakit jiwa oleh dokter spesialis kejiwaan. Hari kedua baru dilaksanakan FGD untuk merumuskan apa yang bisa dikerjakan oleh masing-masing wakil sesuai bidangnya yang dibagi dalam tiga kelompok: masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah.

Dari acara tersebut saya mendapat pelajaran. Kesehatan jiwa itu sangat butuh pendekatan komunitas. Pasien sakit jiwa yang sudah tahap rehabilitasi perlu untuk diberdayakan kembali di masyarakat setelah keluar dari RSJ. Siapa yang berperan dalam hal ini? Tentu saja tak bisa jika semua dilimpahkan tanggung jawabnya kepada rumah sakit. Yang bisa berperan disini adalah departemen sosial dan sejenisnya. 

Prinsip kesembuhan dari gangguan mental adalah bukan melulu tentang hilangnya 'gejala'. Namun yang terpenting adalah kembalinya fungsi kehidupan mendekati normal (quality of life). Dari situ banyak pihak yang harus dimintai peran dan diserahi tanggung jawab. Stigma pasien gangguan jiwa pun perlu untuk diluruskan. Kita harus giat dan peduli. 

Keluarga juga merupakan ujung tombak kesembuhan pasien gangguan jiwa. Pengobatan, tindakan darurat jika pasien ngamuk, dan gejala-gejala pasien mutlak dipahami seluruh anggota keluarga. Dokter harus mampu mengedukasi secara komprehensif. Mereka juga perlu untuk diajak untuk beraktifitas sehari-hari, karena seringkali efek obat psikotik membuat gejala negatif dimana mereka kehilangan inisiatif/minat dalam mengerjakan sesuatu. 

Masyarakat perlu untuk mampu melakukan deteksi dini kelainan kejiwaan, seperti depresi pada lansia, gangguan tingkah laku pada anak-anak dan gangguan emosi pada remaja/dewasa. Disinilah peran health prevention bisa bekerja.

Sungguh kompleks pelayanan kesehatan jiwa. Tidak bisa hanya bergantung pada satu bidang saja. Namun perlu sinergi banyak pihak dalam menangani pasien-pasien pengidap gangguan jiwa. 

Andinillahi Raswati 

Public health education for medical students: rising to the professional challange

Gillam, S. and Maudsley, G., 2010. Public health education for medical student: rising in professional challange. Journal of Public Health, 32(1), pp.125-131.

Pendidikan kesehatan komunitas/public health bagi mahasiswa kedokteran, menurut saya, memang masih belum banyak diminati. Saya pribadi sering bingung saat pendidikan S1 dulu. Penjelasan kesehatan komunitas seakan masih "ngawang-ngawang" dan kurang "klinis" bagi saya. Alhasil saya kurang tertarik.

Sejurus dengan menambahnya pengalaman di dunia koas dan praktek kedokteran lapangan, saya menyadari, kesehatan harusnya tak hanya menyasar pada individu namun juga komunitas. Ternyata dalam memahami penyakit suatu individu tak bisa lepas dari pertimbangan lingkungan/komunitasnya. Minimal kita harus tahu bagaimana epidemiologi penyakit daerah tempat kita praktek. Lebih jauh lagi, penting pula mengetahui tingkat pemahaman masyarakat akan perilaku hidup bersih dan sehat, bagaimana perencanaan kesehatan disuatu wilayah, alokasi dananya, bagaimana evaluasinya, dsb. 

Dalam gambar yang saya dapat dari artikel tersebut, dipaparkan apa saja hasil yang bisa dicapai mahasiswa dalam pendidikan kesehatan komunitas. Untuk pendidikan kami selama sarjana sebenarnya hal tersebut sudah pernah didapat dalam beberapa blok yang berbeda. Jadi sesungguhnya capaian tersebut minimal pernah kami pelajari walau tersebar. 

Saya optimis, melalui stase IKM ini serta membaca sebanyak mungkin sumber kesehatan komunitas, saya akan mendapat gambaran jelas kegiatan apa saja yang bisa dilakukan, dan mengubah perspektif prinsip pengobatan dari individu menjadi komunitas (lebih luas). 

Andinillahi Raswati

Public health practice: three domains of public health


Griffiths, S., Jewell, T. and Donnelly, P., 2005. Public health in practice: The three domains of public health. Public health, 119(10), pp.907-913.

Untuk saya yang masih "awam" tentang apa sih yang dikerjakan dalam kesehatan komunitas, artikel ini mampu menjelaskan domain apa dan contoh-contoh intervensinya dengan jelas dan baik. Dari isi artikel, sebenarnya saya baru menyadari bahwa memang kesehatan komunitas adalah everybody's bussiness. Semua orang sebenarnya berperan dan memiliki andil. Karena untuk menciptakan kesehatan dalam suatu komunitas, perlu adanya keterlibatan banyak pihak/multisektoral. 

Definisi kesehatan komunitas dalam artikel ini adalah : "The science of art of preventing disease, prolonging life and promoting, protecting and improving health through the organized efforts of society."  Betapa kesehatan harus diupayakan bersama-sama, tidak hanya oleh tenaga kesehatan sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan saja. Namun juga masyarakat itu sendiri yang dalam sistem pelayanan kesehatan (baik itu pemegang kebijakan, maupun masyarakat yang peduli) dan semua hal yang bersinggungan secara tidak langsung terhadap berbagai hal yang menjadi determinan kesehatan. 


Determinan kesehatan ini bersinggungan dengan banyak faktor yang dirangkum dalam gambar disamping yang saya sadur dari artikel. Cakupan eksternal yang musti dipertimbangkan dalam mencapai kesehatan komunitas yang prima ternyata luas sekali, tidak hanya sekedar sanitasi, pelayanan kesehatan, dll. Namun juga lingkungan kerja, perumahan, dan agrikultural. Luas sekali ya?

Domain yang dikatakan dalam artikel seperti health improvement dan health protection ini pun sejalan dengan fungsi promotif dan preventif kelak sebagai dokter umum (tidak melulu pada fungsi kuratif saja). Bagi saya, promotif dan preventif ini bisa menyelesaikan masalah kesehatan dari akarnya sebelum penyakit itu berkembang dan merusak masyarakat. Seperti kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati.

Andinillahi Raswati