Showing posts with label Nurul Atiqah. Show all posts
Showing posts with label Nurul Atiqah. Show all posts

Wednesday, July 27, 2016

Program Asma

YAPNAS
Yayasan Anak Penyantun Anak Asma Indonesia didirikan sejak tahun 1989, adalah sebuah yayasan di bidang kesehatan yang bertujuan meningkatkan pengelolaan dan penanggulangan anak/remaja dalam lingkungan keluarga dan masyarakat, sehingga dicapai kualitas hidup yang optimal.

YAPNAS Seminar 2010

Dalam rangka Hari Asma Dunia 2010, YAPNAS bekerjasama dengan Departmen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RSCM, mengadakan Seminar dengan tema "Peran Guru dalam Pengendalian Asma pada Anak" tanggal 4 Mei 200 di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Jakarta yang dihadiri 200 orang peserta dari Guru-guru Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Edukasi dan Penyuluhan
Program edukasi/penyuluhan adalah berbagai kegiatan yang bertujuan untuk memberi pemahaman tentang anak dan remaja dengan asma (pasien asma) serta penanggulangannya, baik kepada keluarga pasien khususnya dan masyarakat pada umumnya. Bentuk program edukasi/penyuluhan yang telah dilaksanakan diantaranya adalah sbb :

a. Pertemuan (Tatap Muka) dengan Orang Tua
Program Pertemuan (Tatap Muka) dengan orang tua adalah kegiatan edukasi/penyuluhan dalam bentuk diskusi yang berbentuk seminar, gathering, pelatihan dan lain sebagainya dimana di dalamnya membahas mengenai peran orang tua dalam menanggulangi anak dan remaja dengan asma. Melalui program ini, diharapkan agar para orang tua akan mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak mengenai asma anak. Pengisi cceramah adalah tim dokter ahli asma dari dalam maupun luar negeri.

b. Penyuluhan untuk Guru
Program Penyuluhan untuk Guru adalah kegiatan edukasi/penyuluhan dalam bentuk diskusi yang berbentuk diskusi, gathering, dan pelatihan dan lain sebgainya dimana di dalamnya membahas tentang cara penanggulangan asma anak serta peran guru dalam menanggapi serangan asma yang terjadi pada murid di sekolah. Program ini melibatkan peserta dari kalanganpara guru se-Jabodetabek. Pengisi ceramah adalah tim DOkter ahli asma dari dalama maupun luar negeri.

c. Road Show
Kegiatan Roadshow merupakan kegiatan edukasi/penyuluhan dalam bentuk diskusi yang berbentuk seminar, gathering, pelatihan lain sebagainya dimana di dalamnya membahas tentang asma pada anak dan remaja. Kegiatan ini dilaksanakan di sekolah-sekolah di Jabodetabek dan dihadiri oleh para guru, orangtua, siswi-siswi sekolah, serta para Dokter yang ahli dalam penyakit anak secara umum dan penyakit asma secara khususnya.

d.Seminar untuk Dokter
Yapnas secara rutin juga mengadakan seminar edukasi kepada para DOkter Puskesmas se-Jabodetabek. kegiatan ini bertujuan untuk menambah pengetahuan para dokter mengenai asma anak dan remaja. Seminar tersebut diisi oleh ceramah para Dokter ahli ama dari dalam maupun luar negeri. Pelaksanaan program ini juga bekerjasama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

e. Asthma Camp (Kemah Anak Asma)
Program Asthma Camp adalah program kegiatan rutin dimana para pasien asma anak dari keluarga prasejahtera maupun non prasejahtera mengikuti kegiatan perkemahan di alam teruka dengan tujuan untuk memberikan penyuluhan/edukasi tentang asma dan penanggulangannya dalam bentuk kegiatan yang menyenangkan, menghiburkan dan menyehatkan. Dalam kegiatan ini selain anak dan remaja mendapat informasi seputar asma dan penanggulangannya dalam bentuk kegiatan bersama di alam terbuka, mereka juga mendapatkan pemeriksaan oleh dokter dan obat-obatan gratis. Itu sebabnya dalam kegiatan yang dilaksanakan di luar kota Jakarta ini juga melibatkan para sukarelawan baik dari kalangan masyarakat maupun dokter.

f. Pojok Asma
Pojok Asma adalah kegiatan penyuluhan/edukasi yang dilaksanakan dengan memanfaatkan area tertentu di sebuah kegiatan tertentu. Umumnya diselenggarakan dengan organisasi/lembaga sejenis maupun organisasi/lembaga/instansi lainnya. Pojok Asma selain memberi penyuluhan/edukasi mengenai asma pada anak dan remaja juga dilengkapi dengan pemeriksaan oleh dokter anak dan pemberian obat-obatan gratis.

Referensi :


Nurul Atiqah

Monday, July 25, 2016

Prevention and control of childhood asthma and allergy







1.     SamoliƄski, B., Fronczak, A., Kuna, P., Akdis, C.A., Anto, J.M., Bialoszewski, A.Z., Burney, P.G., Bush, A., Czupryniak, A., Dahl, R. and Flood, B., 2012. Prevention and control of childhood asthma and allergy in the EU from the public health point of view: Polish Presidency of the European Union. Allergy, 67(6), pp.726-731.

·         Keywords :  asthma; allergy; rhinitis; specific immunotherapy; risk factor; public health
·         Target population : children and young people

Table 1 Applying three domains : Prevention and control of childhood asthma
Issue
Action
Health Improvement
·         Avoid environmental factors (maternal smoking, air pollution, housing conditions eg dustmite, sedentary lifestyle and stress)
·         Make healthy choices easier to reduce risk factor for the onset and progression throughout life of allergy and asthma.
·         Take into account socioeconomic inequalities
Health Protection
·         Screening and surveillance susceptibity factors (birth weight, prematurity, and obesity)
·         Early contact to environments rich in microbial exposures in farms and traditional rural settings may be protective
·         Avoid being second-hand smoke and urban traffic-related pollution
·         Allergen avoidance
·         Educate the patients and emphasize their empowerment in medical decision as they know best their disease.
·         Improve knowledge and education of all stakeholders
Health Service Quality
·         Prevention by antiviral treatment
·         Screening for early recognition of asthma and allergy (skin tests)
·         National programmes against asthma and the Polish national asthma programme (POLASTMA) facilitate the patients' to access to medical care to improve its quality.
·         Usage of allergen immunotherapy
·         Education and optimal pharmacologic  treatment even in underserved population
·         Primary care physicians should be fully involved in investigate the knowledge, attitudes and practices with regard to (ARIA,GINA) guidelines.
·         Develop patient-centred policies focused on patients' needs in cooperation with the relevant stakeholders, especially patients' organiations at all levels of care including primary health care to avoid progression into chronic respiratory diseases in adulthood and later in life.
·         Develop constant monitoring and surveillance of asthma and allergy using existing networks
·         Stimulate integrated research

Singapore National Asthma Program (SNAP) 
One component of the SNAP was directed at improving asthma control in the community by promoting preventive treatment with inhaled corticosteroids. This program describes on prescription patterns of preventor and reliever medication for asthma in the polyclinics. As the result, a simple audit and positive feedback program based on preventor-reliever (PR) ratios, accompanied by sustained local quality improvement cycles has been associated with significant shift in the drug treatment of asthma away from episodic quick relief medication towards long-term daily preventive treatment with inhaled steroids in polyclinics.

 Asthma : The Need for Good Control

What else can we do to further improve the care for our asthma patients?

 First, we should adhere to our local set of asthma management guidelines, which now focuses on achieving good control of asthma. To assess asthma control, a simple and robust tool, the Asthma Control Test (ACT), is recommended. Using a simple validated tool such as the ACT helps to objectively assess asthma control and to minimise asthma ‘disconnects’ – that is, patients overestimating their asthma control and doctors underestimating their patients’ symptoms.

 Second, every asthma patient should be armed with the skills of disease and self-management. A written asthma action plan should be taught so that patients can implement it for self-management of exacerbations between visits. Patients educated in self-management plans experience a one-third to two-third reduction in hospitalisation, emergency room visits, unscheduled clinic visits and missed workdays dueto asthma. The best disease manager for asthma is the patient himself or herself.

Finally, we can improve our care delivery of asthma by ‘connecting the dots’, improving the integration of care across the spectrum from primary care to emergency room visits to hospitalisations to specialist clinics. Asthma remains ever dynamic, and even patients with mild asthma can have a severe flare of their condition and end up in the emergency room or hospital. At the population disease management (macro) level, we ought to strive to provide care that is coordinated, seamless, timely and appropriate

Referensi :
1. Chong, P.N., Tan, N.C. and Lim, T.K., 2008. Impact of the Singapore National Asthma Program (SNAP) on preventor-reliever prescription ratio in polyclinics. ANNALS-ACADEMY OF MEDICINE SINGAPORE37(2), p.114.
2. Abisheganaden, J., 009. Asthma: The Need for Good Control. Annals of the Academy of Medicine, Singapore, 8(7), pp.567-562

Nurul Atiqah

Sunday, July 24, 2016

Apa komentar saya ketika mendengar kata "public health"?

Secara jujurnya, memang pada awalnya saya tidak tertarik malah menjauh apabila isu public health ditimbulkan karena population-based solving problem. Setelah meneliti jurnal Public health has no place in undergraduate medical education dan three domains of public health, saya baru menyedari tugas penting public health. Saya akui mahasiswa kedokteran cenderung meninggalkan public health karena lebih mengejar dari aspek kuratif (diagnosis dan terapi) tetapi konsep "mencegah lebih baik dari merawat" itu yang harus ditekankan dalam diri setiap mahasiswa dan termasuk dari tiga domain public health itu sendiri (promotif,proteksi dan kualitas pelayanan kesehatan). Selain itu,itu juga merupakan salah satu tugas pelayanan dokter primer untuk melakukan promosi dan prevensi di kalangan masyarakat supaya masalah dapat diatasi secara total karena penting pasien dan keluarga mempunyai kesadaran terhadap sakit sendiri dan usaha untuk mencegahnya.

Nurul Atiqah

Friday, July 22, 2016

Pengembangan vaksin dengue


Berdasarkan angka penyakit DBD yang semakin meningkat pada tahun ini, dengan adanya penemuan vaksin dengue ini bisa menjadi "health protective" yang bagus buat komunitas. Depkes bisa mempertimbangkan untuk implementasi vaksin dengue terutama di area endemic dengue namun mungkin mempunyai kendala dari segi biaya yang mahal buat membeli vaksin dan juga penerimaan di kalangan komunitas. Puskesmas mungkin harus bekerjasama dengan kader dan juga tenaga medis yang lain dalam melaksanakan program penyuluhan dan edukasi tentang vaksin supaya komunitas terutama orang tua tidak mempunyai persepsi negatif terhadap vaksin dengue ini. Melalui penelitian, vaksin ini efektif buat 70% komunitas yang rentan terhadap paparan dengue dan 90-95% efektif buat pasien yang dalam perawatan kondisi berat di rumah sakit.

Nurul Atiqah

Konflik dalam Nilai Public Health dan Nilai Moral Masyarakat

Griffths, S., Jewell, T. and Donnelly, P., 2005. Public health in practice : The three domains of public health. Public health, 119(10), pp.907-913
 
Setelah membaca artikel ini, saya mendapati artikel ini menarik karena menjelaskan 3 domain penting dari sesuatu tindakan public health iaitu : Health improvement, health protection, health service delivery and quality dari perbahasan kasus mengenai teen pregnancy. Dari Domain Proteksi, untuk masalah kondom, saya juga berpendapat di satu sisi itu untuk melindungi namun di satu sisi yang lain jika disalah ertikan maka angka seks bebas pada remaja bisa saja meningkat. Dari sudur proteksi yang lain, remaja yang sudah sering melakukan hubungan seks lebih tinggi kemungkinan untuk terkena STD tetapi takut untuk melakukan pemeriksaan karena norma masyarakat sehingga disarankan remaja untuk rutin melakukan pemeriksaan screening HIV atau penyakit infeksi seksual.


Nurul Atiqah