Showing posts with label Dyah Anindya Rani. Show all posts
Showing posts with label Dyah Anindya Rani. Show all posts

Thursday, July 28, 2016

Kontrol Berat Badan pada Anak dan Remaja dengan Down Syndrome

Pada postingan sebelumnya saya membahas mengenai sebuah artikel mengenai prevalensi overweight pada penderita down syndrome. Pada artikel lain juga disebutkan bahwa prevalensi overweight dan obese pada remaja dengan down syndrome lebih tinggi dibandingkan remaja yang tidak menderita down syndrome. Lalu bagaimana kontrol berat badan pada anak dan remaja dengan down syndrome?

Penyebab overweight pada penderita down syndrome bisa dikarenakan metabolisme yang rendah, pengaturan makan yang buruk, dan aktivitas fisik yang kurang. Strategi yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menangani obesitas pada down syndrome yaitu :
● Menurunkan porsi makan
● Memperbanyak makanan-makanan seperti buah, sayur, serat, dan gandum
● Menghindari snack
● Mempunyai pendamping yang dapat mengawasi berat badan penderita down syndrome
● Mengikutsertakan pengawas di tempat kerja atau sekolah untuk ikut dalam program
● Membawa makan siang dari rumah
● Tidak menggunakan makanan sebagai hadiah
● Memperkenalkan olahraga rutin yang sesuai dengan minat dan kemampuan penderita

Jika tidak terdapat komorbid penyakit, maka anak down syndrome dapat menggunakan strategi-strategi dasar yang biasa digunakan orang lain untuk menurunkan berat badan.

Pada anak dan remaja down syndrome, dapat dibuat permainan-permainan yang membantu mereka dalam memilih makanan yang sehat dan membuat mereka beraktivitas fisik.

Selain itu terdapat juga penelitian yang menunjukkan bahwa program diet dan olahraga yang dilakukan dengan dukungan dan peran aktif orang tua terbukti meningkatkan keberhasilan dalam penurunan berat badan dibandingkan program tanpa peran aktif orangtua. Oleh karena itu, program-program tersebut dapat dilakukan untuk mencegah dan menangani anak dan remaja down syndrome dengan overweight atau obese, akan tetapi pendampingan yang baik, terutama dari orang tua akan sangat membantu keberhasilan program ini.

Referensi :
http://pediatrics.aappublications.org/content/128/2/393
http://www.nchpad.org/165/1281/Down~Syndrome~and~Nutrition
http://www.ndss.org/Resources/Wellness/Nutrition/Recreation-Friendship21/
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0022347613008512
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0891422216301433
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2095254612000786


Dyah Anindya Rani

Friday, July 22, 2016

Mengapa saya tidak tertarik dengan public health?

Mengapa saya tidak tertarik dengan public health? Judul yang kurang tepat, karena menurut saya public health merupakan bidang ilmu yang cukup menarik, dimana kita tidak duduk diam menunggu orang sakit datang kepada kita, akan tetapi kita bergerak, berusaha mencegah agar masyarakat (lebih dari 1-2 orang) untuk sakit. Akan lebih baik melihat berbagai macam program-program pencegahan penyakit seperti penyuluhan, posyandu, senam, dsb dalam lingkungan rumah dibandingkan program-program pengobatan di rumah sakit. Program-program public health menurut saya seperti investasi kesehatan. Akan tetapi memang saat ini penerapan program public health di Indonesia masih sangat kurang sehingga hasil dari program public health juga masih kurang terlihat. Oleh karena itu menurut saya sebaiknya semakin banyak dilakukan program-program public health di masyarakat, karena mencegah lebih baik daripada mengobati.


Dyah Anindya Rani

Public health in practice: The three domains of public health

Menanggapi artikel tersebut, menurut saya untuk health service delivery and quality memang benar inilah bidang yang paling dipelajari oleh seorang dokter, sehingga bidang inilah yang paling banyak diminati, akan tetapi menurut saya health improvement dan health protection juga tidak kalah penting untuk dikuasai dan diimplementasikan oleh seorang dokter, terutama dokter umum di era jaminan kesehatan atau BPJS seperti sekarang ini. Bagi seorang dokter keluarga atau dokter puskesmas, health improvement menurut saya justru lebih penting dibanding health service delivery and quality karena sistem pembayaran BPJS kepada dokter keluarga adalah sistem kapitasi, dimana jika semakin sedikit masyarakat yang sakit penghasilan seorang dokter akan semakin tinggi, begitu juga sebaliknya saat semakin banyak masyarakat yang sakit, penghasilan dokter tersebut akan semakin sedikit karena digunakan untuk pengobatan dan pemeriksaan pasien tersebut. Health protection juga penting karena health protection dapat digunakan untuk menentukan program health improvement yang sesuai


Dyah Anindya Rani

Overweight pada orang dengan down syndrome

Rubin, Stephen S., et al. "Overweight prevalence in persons with Down syndrome." Mental retardation 36.3 (1998): 175-181.

Di sini saya ingin mengomentari artikel di atas. Pada artikel tersebut disebutkan bahwa insidensi overweight pada penderita sindrom down yang tinggal dalam family setting lebih tinggi daripada group home setting. Hal ini menurut saya dikarenakan dalam keluarga aturan yang diterapkan terbilang longgar dan mereka terkesan menuruti keinginan penderita, sehingga orang tua atau keluarga sebaiknya tegas dalam beberapa aturan seperti porsi makan, aktivitas fisik, dsb. Dalam group home setting, biasanya dilakukan berbagai macam kegiatan salah satunya olahraga. Dalam hal makanan pun sudah diatur untuk jenis dan porsi makanannya, sehingga insidensi penderita sindrom down yang mengalami overweight dalam group home setting masih lebih rendah dibanding mereka yang tinggal dalam family setting.
Selain penerapan aturan makan dan aktivitas fisik, akan sangat baik jika penderita sindrom down dapat diberikan kegiatan aktif di masyarakat sehingga tidak terkesan hanya duduk diam di rumah. Selain untuk aktivitas fisik, kegiatan-kegiatan tersebut dapat membantu mengasah kemampuan sosialisasi penderita sindrom down.


Dyah Anindya Rani